Perubahan fisik yang dirasakan setelah proses persalinan dengan operasi caesar
Operasi caesar adalah operasi besar sehingga memerlukan waktu beberapa minggu untuk pulih sempurna. Namun, dengan bantuan obat anti sakit dan dukungan dari keluarga, anda tetap melakukan perawatan bayi yang terbaik, tapi sebaiknya tetap tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan berat dahulu.
Bila melalui proses persalinan secara caesar, anda akan mengalami perubahan tubuh yang sama seperti wanita lain yang melahirkan secara normal, tetapi anda akan mengalami sedikit masalah saat akan duduk, berdiri, bergerak, atau berjalan akibat rasa sakit bekas operasi pada daerah perut. Bahkan akan terasa sakit saat anda tertawa atau batuk. Rasa sakit dapat sedikit berkurang jika anda memegang daerah jahitan dengan tangan. Jangan menahan rasa sakit, bila perlu mintalah obat pengurang rasa sakit.
Walaupun anda merasa sakit saat bergerak, apalagi berjalan, cobalah tetap berlatih berjalan. Semakin cepat anda mulai bergerak, semakin baik untuk sirkulasi tubuh dan penyembuhan. Mungkin sangat sulit pada awalnya, tapi bila anda terus mencobanya, maka selanjutnya akan lebih mudah melakukan kembali.
Meskipun melahirkan dengan operasi caesar, anda tetap dapat memberikan asi kepada bayi. Apabila terjadi rasa sakit pada jahitan di sekitar perut, cobalah mencari posisi menyusui yang terbaik dan nyaman bagi anda.
Tubuh anda memerlukan waktu lebih dari 6 minggu untuk pulih setelah operasi caesar, jadi konsumsilah makanan bergizi dan cukup cairan yang dapat membantu proses pemulihan lebih cepat. Rawatlah luka jahitan agar tetap kering, dan hindari membawa atau memindahkan barang-barang berat selama beberapa minggu. Hubungi dokter anda segera, bila luka bekas jahitan menjadi bengkak, kemerahan atau terbuka.
Pemerikasaan ulang ke dokter
Dokter kandungan anda akan memberikan jadwal pemeriksaan ulang dalam 4-6 minggu setelah proses persalinan baik normal maupun operasi. Lakukan pemeriksaan ulang ini, sehingga dokter dapat memantau keadaan jahitan, memeriksa keadaan rahim, memastikan kesehatan anda. Ini juga memberikan kesempatan anda untuk berkonsultasi kepada dokter tentang keluhan yang ada, seperti masalah hubungan intim, menstruasi, diet, atau masalah pencegahan kehamilan (kontrasepsi).
Perasaan dan emosi yang dirasakan setelah proses persalinan
Sebagai ibu baru anda juga perlu memberi perhatian terhadap “apa yang anda rasakan” atau “perasaan anda” sehingga apa yang disebut “baby blues” atau depresi pasca-persalinan tidak timbul dan mengenai diri anda secara perlahan atau tiba-tiba.
Beberapa hari setelah melahirkan, kebanyakan wanita akan mengalami perubahan emosional yang labil, yaitu mereka merasa bahagia dan beberapa saat kemudian merasa sedih tanpa sebab, merasa tidak mampu atau takut tak dapat menjadi ibu yang baik dan sebagainya. Kondisi ini normal-normal saja.
Baby blues syndrome adalah kondisi yang sering terjadi dan menimpa hampir separo ibu baru. Umumnya terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan, dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat setelah persalinan.
Baby blues syndrome terjadi karena setelah proses melahirkan, tubuh akan mengalami perubahan fisik yang besar dan hormon-hormon dalam tubuh juga mengalami perubahan yang besar. Padahal, saat itu anda sedang dalam kondisi lelah setelah melalui proses persalinan. Semua ini akan memengaruhi perasaan anda.
Jika anda baru pertama kali melahirkan dan mengalami gejala-gejala Baby blues syndrome, ini adalah bagian normal dari masa awal naluri keibuan anda dan biasanya gejala akan menghilang dalam 10 hari setelah proses melahirkan. Jadi, sebaiknya terima saja kondisi ini dengan sabar dan yakin bahwa semua perasaan ini normal-normal saja dan akan segera berlalu. Dengan sabar dan penuh keyakinan, anda pasti dapat melaluinya dengan perasaan lebih baik.
Tetapi, pada sebagian wanita, gejalanya berkembang menjadi lebih buruk dan berlangsung lama. Ini yang disebut sebagai “depresi pasca-persalinan”. Walaupun depresi pada kebanyakan wanita timbul sesaat setelah proses persalinan, tetapi beberapa wanita mulai mengalami depresi ini beberapa minggu atau bulan berikutnya setelah proses melahirkan. Yang termasuk depresi pasca-persalinan, bila depresi ini timbul dalam waktu enam bulan setelah proses persalinan.
Oleh : Desiani
Sumber : Buku pintar merawat bayi 0-12 bulan, dr.Suririnah, penerbit gramedia, 2009
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Desember 2010
Sabtu, 27 Maret 2010
MENEPATI JANJI - Habis
Lupakan pemimpin-pemimpin kita yang sama sekali tidak bisa dicontoh itu. Lihatlah cara Nabi memberi contoh umat-nya dalam berbisnis. Rasulullah SAW, sang teladan abadi, dalam berbisnis tidak pernah sekalipun membohongi pelanggannya. Beliau selalu mengantarkan barang sesuai dengan jumlah yang dipesan dan dengan kualitas barang yang disepakati bersama. Beliau sama sekali tidak memberi kesempatan kepada pelanggannya untuk mengeluh, walau hanya sekali saja.
Positioning beliau sebagai pedagang yang terjujur dan paling dapat dipercaya, begitu kuat melekat, bahkan oleh musuh-musuhnya sekalipun. Prinsip-prinsip pembentukan positioning yang dicontohkan Nabi ini tetap dan akan terus relevan dengan dunia modern kini. Dan, lagi-lagi, anda tidak mesti harus ber-modal dan ber-keahlian yang luar biasa untuk menepati "janji-janji" anda kepada konsumen.
Di rumah kami, ibu saya membuka toko kecil yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Di kompleks perumahan kami, cukup banyak warung-warung sejenis, bahkan sudah ada toko besar di sana. Namun, sejak dibuka sekitar 8 tahun yang lalu, alhamdulillah hingga kini warung kami tersebut masih berjalan lancar. Padahal kalau pake hitung-hitungan kasar, mestinya warung kami itu sudah lama bangkrut. Selain banyaknya pesaing, harga yang warung ibu saya tawarkan juga tidak terlalu kompetitif. Harga pasar-lah, gitu. Untuk produk tertentu, termasuk mahal malahan.
Barang-barangnya juga tidak komplit banget. Malah banyak orang sering kecele karena ibu saya tidak menjual rokok, barang dagangan eceran terlaris yang telah menjadi menu wajib di hampir semua warung-warung kecil. Dari segi fasilitas, bangunan fisik warung ibu saya juga biasa-biasa saja. Tidak bisa untuk disebut nyaman. Benar-benar tidak ada yang istimewa. Jadi, kalaupun tidak bangkrut, mestinya paling tidak warung ibu saya itu tidak terlalu laku. Tetapi itulah kenyataannya, warung ibu saya tetap ramai.
Setelah hampir menyerah, akhirnya saya menemukan satu "keistimewaan" warung ibu saya itu. Yaitu, kejujuran dan keramahan. Yah, ibu saya terkenal jujur dalam berdagang. Kalau timbangannya kurang sedikit saja, ibu saya memberitahukan hal itu terlebih dahulu ke pembeli untuk dapat persetujuan. Tak jarang ibu saya berteriak memanggil-manggil pembeli untuk kembali karena ternyata ibu saya kurang dalam memberi uang kembalian. Tidak jarang juga ibu saya mengembalikan uang pembeli yang alpa memberi uang terlalu besar. Penilaian tetangga kami-pun menjadi positif.
Tak heran bila seorang anak kecil yang belum bisa bicara dengan lancar sekalipun, sudah sering disuruh oleh ibunya untuk berbelanja di warung kami. Tak ada kekhawatiran bahwa mereka akan ditipu atau dicurangi. Keramahan dan kebaikan hati juga menjadi faktor keistimewaan lain dari warung ibu saya dibandingkan dengan pesaingnya. Bukan pemandangan yang aneh bila di warung kami ada pembeli yang betah berdiri sampai berpuluh-puluh menit hanya untuk ngobrol dengan ibu saya. Malahan, tidak sedikit tetangga kami yang menjadikan warung ibu saya itu sebagai tempat curhat!
Walau sedari awal tidak menetapkan positioning warung kami, secara tidak sadar, ibu saya telah membentuk "posisi" warung kami itu di benak konsumen (tetangga kami) sebagai "warung yang ramah dan terpercaya" dengan sangat kuat.
Begitu kuatnya Positioning warung kami ini melekat, sehingga ada tetangga kami yang seorang pendeta sangat sering berbelanja di warung kami dan selalu dalam jumlah besar. Sebegitu seringnya, sampai-sampai ibu saya sudah menganggapnya sebagai salah satu konsumen terpenting. Padahal tidak jauh dari rumah bapak pendeta itu ada warung yang sama seperti warung kami, bahkan pemiliknya se-agama dengan si bapak pendeta itu. Sementara di sisi lain, ibu saya sudah terkenal di lingkungan kami sebagai "Bu Haji". Ya, dengan positioning itulah warung ibu saya menikmati keunggulan bersaing (competitive advantage) dari para pesaingnya.
Oleh: Yusuf Wibisono
Positioning beliau sebagai pedagang yang terjujur dan paling dapat dipercaya, begitu kuat melekat, bahkan oleh musuh-musuhnya sekalipun. Prinsip-prinsip pembentukan positioning yang dicontohkan Nabi ini tetap dan akan terus relevan dengan dunia modern kini. Dan, lagi-lagi, anda tidak mesti harus ber-modal dan ber-keahlian yang luar biasa untuk menepati "janji-janji" anda kepada konsumen.
Di rumah kami, ibu saya membuka toko kecil yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Di kompleks perumahan kami, cukup banyak warung-warung sejenis, bahkan sudah ada toko besar di sana. Namun, sejak dibuka sekitar 8 tahun yang lalu, alhamdulillah hingga kini warung kami tersebut masih berjalan lancar. Padahal kalau pake hitung-hitungan kasar, mestinya warung kami itu sudah lama bangkrut. Selain banyaknya pesaing, harga yang warung ibu saya tawarkan juga tidak terlalu kompetitif. Harga pasar-lah, gitu. Untuk produk tertentu, termasuk mahal malahan.
Barang-barangnya juga tidak komplit banget. Malah banyak orang sering kecele karena ibu saya tidak menjual rokok, barang dagangan eceran terlaris yang telah menjadi menu wajib di hampir semua warung-warung kecil. Dari segi fasilitas, bangunan fisik warung ibu saya juga biasa-biasa saja. Tidak bisa untuk disebut nyaman. Benar-benar tidak ada yang istimewa. Jadi, kalaupun tidak bangkrut, mestinya paling tidak warung ibu saya itu tidak terlalu laku. Tetapi itulah kenyataannya, warung ibu saya tetap ramai.
Setelah hampir menyerah, akhirnya saya menemukan satu "keistimewaan" warung ibu saya itu. Yaitu, kejujuran dan keramahan. Yah, ibu saya terkenal jujur dalam berdagang. Kalau timbangannya kurang sedikit saja, ibu saya memberitahukan hal itu terlebih dahulu ke pembeli untuk dapat persetujuan. Tak jarang ibu saya berteriak memanggil-manggil pembeli untuk kembali karena ternyata ibu saya kurang dalam memberi uang kembalian. Tidak jarang juga ibu saya mengembalikan uang pembeli yang alpa memberi uang terlalu besar. Penilaian tetangga kami-pun menjadi positif.
Tak heran bila seorang anak kecil yang belum bisa bicara dengan lancar sekalipun, sudah sering disuruh oleh ibunya untuk berbelanja di warung kami. Tak ada kekhawatiran bahwa mereka akan ditipu atau dicurangi. Keramahan dan kebaikan hati juga menjadi faktor keistimewaan lain dari warung ibu saya dibandingkan dengan pesaingnya. Bukan pemandangan yang aneh bila di warung kami ada pembeli yang betah berdiri sampai berpuluh-puluh menit hanya untuk ngobrol dengan ibu saya. Malahan, tidak sedikit tetangga kami yang menjadikan warung ibu saya itu sebagai tempat curhat!
Walau sedari awal tidak menetapkan positioning warung kami, secara tidak sadar, ibu saya telah membentuk "posisi" warung kami itu di benak konsumen (tetangga kami) sebagai "warung yang ramah dan terpercaya" dengan sangat kuat.
Begitu kuatnya Positioning warung kami ini melekat, sehingga ada tetangga kami yang seorang pendeta sangat sering berbelanja di warung kami dan selalu dalam jumlah besar. Sebegitu seringnya, sampai-sampai ibu saya sudah menganggapnya sebagai salah satu konsumen terpenting. Padahal tidak jauh dari rumah bapak pendeta itu ada warung yang sama seperti warung kami, bahkan pemiliknya se-agama dengan si bapak pendeta itu. Sementara di sisi lain, ibu saya sudah terkenal di lingkungan kami sebagai "Bu Haji". Ya, dengan positioning itulah warung ibu saya menikmati keunggulan bersaing (competitive advantage) dari para pesaingnya.
Oleh: Yusuf Wibisono
Label:
bu haji,
competitive advantage,
curhat,
dipercaya,
ekonomi,
ibu,
janji,
jujur,
keistimewaan,
kejujuran,
keramahan,
manajemen,
pedagang,
positioning,
rasulullah,
warung,
yusuf wibisono
Langganan:
Postingan (Atom)