Dia tidak tahu siapa dirinya, darimana dia berasal, seringkali dia bertanya kepada saudaranya kenapa dirinya bisa menjadi seperti ini. Yang ada dalam dirinya adalah kegoisan dan menganggap dirinya selalu benar. Dia tidak pernah tahu bagaimana cara menempatkan diri dan bersosialisasi. Egois adalah prinsip utama, kalau tidak egois katanya dia tidak dapat hidup. Tidak ada unsur toleransi dan kemanusian di dirinya, hanya berpikir secara logika dan untung rugi saja.
Dia tidak terbiasa saling memberi dan menerima dalam kehidupannya, hanya ingin diberi saja oleh orang lain. Dia merasa bila dia memberikan sesuatu kepada orang lain, hal tersebut akan mengurangi kekayaan yang dipunyainya.
Dia tidak diajarkan menjadi orang pengasih dan pemberi dari kecil. Dia tidak pernah diberitahu apakah sesuatu hal itu benar atau tidak, dia tidak pernah diberikan pembenaran. Dia selalu di lindungi pada waktu kecil, sehingga tumbuhlah dia menjadi pribadi yang egois, yang selalu membenarkan dirinya.
Kepribadiannya sangat keras, tidak dapat dinasehati dan diberikan kata-kata bijak. Tidak ada keluarganya yang sanggup berhadapan dengannya. Sehingga dia melakukan perawatan ke psikiater, hal ini sudah berlangsung hampir enam tahun. Setiap hari dirinya diwajibkan minum obat dengan dosis tinggi, dan juga pernah dirawat ini di klinik empati di salah satu rumah sakit di Jakarta.
Segala usaha medis telah ditempuh, dan tidak ada perubahan yang berarti. Seluruh keluarga telah memberikan masukan baik secara spritual dan material, tetapi belumlah berhasil.
Seluruh keluarga telah menyerah untuk merawat dan menjaga dia. Tidak ada keluarga yang mau menerima dia. Sudah banyak segala upaya yang telah dilakukan, tetapi dia tidaklah berubah. Dia bertanya lagi siapa dirinya?
Dia tidak pernah berdialog kepada Tuhan untuk menanyakan siapakah dirinya. Dia tidak terbiasa berdoa dalam keheningan malam untuk mengembalikan kembali dirinya ke titik nol, untuk apa dia diciptakan, dan apa tujuan hidupnya.
Tidak sadarkah dia bahwa kehidupan ini tidak ada yang abadi, dan yang diukur oleh Tuhan adalah amal kebaikan yang kita persembahkan bagi orang lain. Dia tidak pernah menangisi kesalahan yang telah dilakukannya, telah banyak saudaranya dan terutama orang tuanya yang telah disakiti hatinya oleh kata-kata hinaan dari mulutnya. Betapa sering kata binatang yang dikeluarkan, dan kata-kata sadis yang terucap, dan sudah beberapa kali dia menyakiti fisik saudaranya.
Oh Tuhan makhluk apakah yang Engkau ciptakan ini? Hikmah apa yang dapat diambil dari masalah ini? Bagaimanakah cara menyelesaikan hal ini? Hanya kepasrahan yang ada, semoga dia dapat menyadari segala hal yang telah dilakukannya.
Hanya doa yang tiada putusnya yang dapat dilakukan pada saat ini, semoga dia diberikan ketenangan dan keselamatan dalam menjalani kehidupan ini.
Oleh : Desiani
Tampilkan postingan dengan label berdoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berdoa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 September 2010
Rabu, 22 September 2010
RENUNGAN
Keikhlasan hati adalah menerima segala hal yang terjadi. Semua masalah pasti ada hikmah dibalik itu. Tapi bagaimanakah kita mengetahui bahwa masalah tersebut mempunyai hikmah. Terkadang memang sulit untuk menemukannya, apalagi hal tersebut berlangsung lama, seperti tidak berujung. Segala hal pasti ada solusinya, walaupun bisa jadi kita agak lambat menemukannya. Tetapi seiring dengan waktu kita pasti sanggup menghadapi hal tersebut. Terkadang kuncinya adalah hanya berdoa. Bila kita dengan segala upaya telah mencari solusi terhadap masalah tersebut, kita hanya pasrah kepada Allah SWT, bersujud dan mengadukan segala persoalan yang ada.
Kebeningan jiwa perlu di jaga, bisa dengan sebuah renungan, berdoa dan bersujud dikeheningan malam. Kita perlu bertanya siapa diri kita, apa yang telah kita lakukan, dan apa yang akan kita lakukan. Sudahkah hidup kita bermakna bagi orang lain? Apakah kita pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua, teman, kerabat, dan lainnya?
Sesungguhnya manusia bukanlah siapa-siapa, semua manusia sama, yang membedakannya hanyalah manfaat dia bagi orang lain, dan kebaikan apa yang telah dia berikan untuk orang lain, dan keikhlasan hatinya untuk membantu antar sesama, menjalankan segala rintangan yang ada.
Semua hal bila dilihat dari fisik saja, tentu tidaklah mengandung makna apa-apa. Bila direnungkan, sebagai contoh karyawan kantor yang bekerja rutin dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore kalau kita tanya apa yang mereka dapat, dan untuk apa mereka menjalankan itu semua? Akan banyak jawaban yang diungkapkan. Tetapi bila dijalani dengan penuh keikhlasan tentu banyak makna yang terkandung. Dengan bekerja kita dapat memberikan ilmu yang kita miliki untuk perusahaan dan masyarakat banyak, kita dapat menebarkan kebaikan terhadap atasan dan rekan kerja kita, kita dapat memperluas pengetahuan dan ilmu, dan masih banyak lagi. Dan dampak rezeki yang kita dapat dari bekerja dapat membantu keluarga, orang-orang yang tidak mampu, dan lain sebagainya. Tentu masih banyak hikmah-hikmah lain yang kita dapat.
Keikhlasan hati adalah hal yang setiap saat perlu kita perdalam, karena keikhlasan hati bersifat tidak statis, dapat berubah-ubah. Bila keikhlasan hati kita sedang turun, kita gali kembali. Untuk mendapatkan keikhlasan hati kita harus merenung dan melihat secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan kita. Keikhlasan adalah melandaskan segala sesuatu berdasarkan Allah SWT.
Keikhlasan hati seperti kapas yang ditiup angin dan tidak berharap kembali. Seperti halnya bila kita memberikan sesuatu kepada orang lain, seharusnya tak mengharapkan sesuatu apa pun.
Bila keikhlasan hati kita selalu terjaga, bertapa indahnya kita dalam menjalani kehidupan ini. Kita menerima silih bergantinya permasalahan dengan tersenyum. Tidak berkeluh kesah terhadap apa yang terjadi. Selalu tabah dalam menjalani segala sesuatu, dan siap memberikan pertolongan kepada siapa pun juga.
Dengan tersenyum menjalankan segala sesuatu, maka timbulah kebahagian. Orang yang bahagia adalah orang tersenyum. Kebahagian itu harus dilandasi dengan keikhlasan hati. Dan manusia harus berpikir bahwa hidup ini adalah sementara dan titipan Allah SWT. Oleh karena itu jalankan kehidupan ini dengan tersenyum dan kegembiraan.
Oleh : Desiani
Kebeningan jiwa perlu di jaga, bisa dengan sebuah renungan, berdoa dan bersujud dikeheningan malam. Kita perlu bertanya siapa diri kita, apa yang telah kita lakukan, dan apa yang akan kita lakukan. Sudahkah hidup kita bermakna bagi orang lain? Apakah kita pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua, teman, kerabat, dan lainnya?
Sesungguhnya manusia bukanlah siapa-siapa, semua manusia sama, yang membedakannya hanyalah manfaat dia bagi orang lain, dan kebaikan apa yang telah dia berikan untuk orang lain, dan keikhlasan hatinya untuk membantu antar sesama, menjalankan segala rintangan yang ada.
Semua hal bila dilihat dari fisik saja, tentu tidaklah mengandung makna apa-apa. Bila direnungkan, sebagai contoh karyawan kantor yang bekerja rutin dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore kalau kita tanya apa yang mereka dapat, dan untuk apa mereka menjalankan itu semua? Akan banyak jawaban yang diungkapkan. Tetapi bila dijalani dengan penuh keikhlasan tentu banyak makna yang terkandung. Dengan bekerja kita dapat memberikan ilmu yang kita miliki untuk perusahaan dan masyarakat banyak, kita dapat menebarkan kebaikan terhadap atasan dan rekan kerja kita, kita dapat memperluas pengetahuan dan ilmu, dan masih banyak lagi. Dan dampak rezeki yang kita dapat dari bekerja dapat membantu keluarga, orang-orang yang tidak mampu, dan lain sebagainya. Tentu masih banyak hikmah-hikmah lain yang kita dapat.
Keikhlasan hati adalah hal yang setiap saat perlu kita perdalam, karena keikhlasan hati bersifat tidak statis, dapat berubah-ubah. Bila keikhlasan hati kita sedang turun, kita gali kembali. Untuk mendapatkan keikhlasan hati kita harus merenung dan melihat secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan kita. Keikhlasan adalah melandaskan segala sesuatu berdasarkan Allah SWT.
Keikhlasan hati seperti kapas yang ditiup angin dan tidak berharap kembali. Seperti halnya bila kita memberikan sesuatu kepada orang lain, seharusnya tak mengharapkan sesuatu apa pun.
Bila keikhlasan hati kita selalu terjaga, bertapa indahnya kita dalam menjalani kehidupan ini. Kita menerima silih bergantinya permasalahan dengan tersenyum. Tidak berkeluh kesah terhadap apa yang terjadi. Selalu tabah dalam menjalani segala sesuatu, dan siap memberikan pertolongan kepada siapa pun juga.
Dengan tersenyum menjalankan segala sesuatu, maka timbulah kebahagian. Orang yang bahagia adalah orang tersenyum. Kebahagian itu harus dilandasi dengan keikhlasan hati. Dan manusia harus berpikir bahwa hidup ini adalah sementara dan titipan Allah SWT. Oleh karena itu jalankan kehidupan ini dengan tersenyum dan kegembiraan.
Oleh : Desiani
Langganan:
Postingan (Atom)